JAKARTA Perekonomian Indonesia dinilai memiliki daya tahan di tengah perlambatan ekonomi global yang dibayangi meningkatnya fragmentasi ekonomi, ketegangan geopolitik, serta perubahan pola investasi dan rantai pasok dunia. Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi baru.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menekankan pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi sebagai fondasi menghadapi ketidakpastian global. Menurut dia, ketahanan ekonomi nasional perlu berjalan beriringan dengan upaya memperkuat sumber-sumber pertumbuhan baru agar Indonesia mampu merespons perubahan lanskap ekonomi internasional.
Pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus memperkuat pilar-pilar pertumbuhan ekonomi baru di tengah meningkatnya fragmentasi ekonomi dan tensi geopolitik internasional, ujar Destry.
Dalam menghadapi perubahan tersebut, Bank Indonesia juga mendorong penguatan kerja sama transaksi mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) serta konektivitas sistem pembayaran lintas negara. Upaya itu mencakup perluasan integrasi pembayaran berbasis QR antarnegara di antara seluruh anggota aliansi BRICS.
Penguatan kerja sama keuangan lintas negara tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang tertentu sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi perdagangan dan investasi. Inisiatif tersebut juga diarahkan untuk meredam dampak ketidakpastian ekonomi global dan mendorong terbentuknya kerja sama keuangan yang lebih konkret.
Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao mengatakan perkembangan ekonomi global yang semakin multipolar memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru. Diversifikasi investasi, manufaktur, dan rantai pasok global menjadi faktor yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperbesar peran ekonominya.
Keunggulan Indonesia ke depan tidak hanya terletak pada sumber daya alam dan ukuran pasar, tetapi juga kemampuannya menarik investasi berbasis teknologi, memperkuat rantai nilai domestik, mengembangkan ekonomi digital, serta menjaga stabilitas kebijakan dan makroekonomi, ujarnya.
Menurut Radhika, perubahan konfigurasi ekonomi global membuat negara-negara berlomba membangun rantai pasok yang lebih beragam dan tahan terhadap berbagai gangguan. Dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki ruang untuk meningkatkan nilai tambah industri domestik, memperluas investasi berbasis teknologi, serta memperkuat konektivitas ekonomi digital.
Penguatan stabilitas makroekonomi, diversifikasi sumber pertumbuhan, dan kerja sama ekonomi lintas negara menjadi sejumlah faktor penting bagi Indonesia untuk mempertahankan ketahanan ekonomi sekaligus menangkap peluang dari perubahan struktur perekonomian global. (*)