Oleh : Andika Pratama *)
Kolaborasi nasional dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berkelanjutan semakin menemukan urgensinya di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim global. Proyeksi fenomena El Nino pada 2026 yang diperkirakan mencapai puncaknya pada pertengahan tahun menghadirkan tantangan serius bagi Indonesia, terutama dengan potensi musim kemarau yang lebih panjang dan curah hujan di bawah normal di sebagian besar wilayah. Kondisi ini berimplikasi langsung terhadap meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat, stabilitas ekonomi, serta citra Indonesia di mata dunia.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menunjukkan langkah antisipatif dengan memperketat pengendalian karhutla secara menyeluruh. Pendekatan yang diambil tidak lagi sekadar reaktif, melainkan berbasis pencegahan yang sistematis dari hulu hingga hilir. Pelaksana tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Ali Jamil, menegaskan bahwa seluruh pelaku usaha perkebunan, baik skala kecil maupun besar, wajib menerapkan prinsip tanpa bakar sebagai standar utama dalam pengelolaan lahan serta memastikan kesiapan sarana, prasarana, dan sumber daya manusia dalam pengendalian kebakaran. Pernyataan ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam membangun disiplin kolektif di sektor perkebunan sebagai salah satu titik rawan karhutla.
Penguatan sistem peringatan dini menjadi salah satu strategi kunci yang diusung pemerintah. Integrasi data hotspot, prakiraan cuaca, serta pemetaan wilayah rawan berbasis spasial memungkinkan respons yang lebih cepat dan tepat sasaran. Selain itu, pembangunan infrastruktur pendukung seperti embung, sekat kanal, hingga menara pantau turut menjadi bagian dari upaya mitigasi yang berkelanjutan. Dalam konteks ini, Ali Jamil juga menekankan bahwa investasi dalam sistem pencegahan karhutla merupakan langkah strategis untuk melindungi keberlanjutan usaha perkebunan sekaligus menjaga lingkungan dan reputasi komoditas Indonesia di pasar global.
Di sisi lain, pendekatan lintas sektor yang dipimpin oleh Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan memperkuat fondasi kolaborasi nasional. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago, menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi karhutla bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk nyata kesungguhan seluruh pemangku kepentingan dalam menyatukan langkah dan meningkatkan kewaspadaan bersama. Ia juga menekankan bahwa seluruh komponen, baik pemerintah daerah, aparat keamanan, maupun relawan, harus memastikan kesiapan sumber daya, mulai dari personel hingga sistem komando lapangan.
Lebih lanjut, Djamari Chaniago menggarisbawahi bahwa strategi terbaik dalam pengendalian karhutla adalah memperkuat pencegahan dan deteksi dini, mengingat penanganan kebakaran yang sudah meluas akan jauh lebih sulit, mahal, dan berisiko. Ia juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap wilayah strategis, permukiman, serta fasilitas publik agar dampak karhutla tidak meluas ke sektor sosial dan ekonomi. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa pendekatan yang diambil pemerintah bersifat komprehensif dan berorientasi pada perlindungan masyarakat secara luas.
Karakteristik wilayah gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan menjadi tantangan tersendiri dalam pengendalian karhutla. Oleh karena itu, pengelolaan tinggi muka air, optimalisasi sumber air, serta kesiapan operasi lapangan menjadi aspek penting yang harus diperhatikan. Dalam hal ini, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor penentu keberhasilan, terutama dalam memastikan kesiapan infrastruktur dan sumber daya di wilayah rawan.
Keterlibatan aparat TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, hingga relawan menunjukkan bahwa pengendalian karhutla merupakan tanggung jawab bersama. Patroli terpadu, verifikasi cepat terhadap titik panas, serta respons lapangan yang sigap menjadi indikator efektivitas koordinasi lintas sektor. Djamari Chaniago juga menegaskan bahwa penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan konsisten terhadap pelaku pembakaran lahan, mengingat dampak yang ditimbulkan sangat luas dan merugikan berbagai sektor kehidupan.
Komitmen pemerintah pusat dalam mendukung pengendalian karhutla juga tercermin dari kesiapan anggaran yang tidak terpengaruh oleh kebijakan efisiensi. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Suharyanto, memastikan bahwa anggaran penanggulangan karhutla disiapkan secara penuh sesuai arahan Presiden, sehingga daerah dapat bergerak cepat dalam melakukan mitigasi dan penanganan dini. Hal ini menunjukkan bahwa isu karhutla menjadi prioritas nasional yang memerlukan perhatian serius dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan pengendalian karhutla berkelanjutan sangat bergantung pada kekuatan kolaborasi nasional. Pemerintah telah menunjukkan arah kebijakan yang jelas dengan menempatkan pencegahan sebagai prioritas utama, didukung oleh penguatan sistem, infrastruktur, serta penegakan hukum. Pernyataan para tokoh kunci menunjukkan adanya kesamaan visi dalam menghadapi ancaman ini, yakni membangun sinergi yang solid dan respons yang cepat serta terkoordinasi.
Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, aparat keamanan, dan masyarakat, Indonesia memiliki peluang besar untuk menekan risiko karhutla hingga titik minimal. Upaya ini tidak hanya menjadi bentuk perlindungan terhadap lingkungan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi keberlanjutan pembangunan nasional dan kesejahteraan masyarakat.
*) Penulis adalah Pengamat Sosial