Ekspor Menguat, Manufaktur Ekspansi, Pemerintah Perkuat Nilai Tambah Ekonomi Nasional

Jakarta – Kinerja ekspor dan aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan perkembangan positif di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pemerintah terus mendorong penguatan industri pengolahan, hilirisasi, investasi, dan tata kelola devisa untuk meningkatkan daya saing produk nasional sekaligus memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat.

Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), melalui Aditya Laksmana, mengatakan pertumbuhan ekspor dan surplus perdagangan menjadi salah satu penopang ketahanan ekonomi nasional.

“BPS mencatat ekspor Indonesia pada Agustus 2026 tumbuh 6,72 persen menjadi US$26,61 miliar. Secara kumulatif Januari–Agustus 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$7,25 miliar,” ujar Aditya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari – Agustus 2026 mencapai US$193,64 miliar atau tumbuh 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Surplus perdagangan berasal dari sektor nonmigas sebesar US$28,54 miliar, yang mengimbangi defisit migas sebesar US$21,29 miliar.

Dari sisi industri, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia meningkat menjadi 52,4 pada September 2026, dari 49,8 pada Agustus.

“Di Indonesia PMI manufakturnya juga meningkat ke 52,4, yang kalau kita tahu selama angkanya di atas 50 berarti ini ada indikasi ekspansi manufaktur,” ungkap Suahasil. Indikator tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur kembali berada di zona ekspansi.

Aditya menilai peningkatan aktivitas produksi perlu diikuti penguatan industri bernilai tambah agar manfaatnya meluas ke dunia usaha dan tenaga kerja. Karena itu, hilirisasi perlu terus dikembangkan, tidak hanya pada komoditas seperti kelapa sawit dan nikel, tetapi juga produk manufaktur yang memiliki rantai produksi lebih panjang. Diversifikasi produk dan pasar ekspor menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga komoditas mentah.

Investasi juga menjadi penggerak penting. Kementerian Investasi dan Hilirisasi mencatat realisasi investasi Januari – September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun, tumbuh 7,3 persen secara tahunan, serta menyerap 2.194.496 tenaga kerja.

Pemerintah terus mendorong penguatan industri, optimalisasi devisa hasil ekspor sesuai ketentuan, dan pengawasan perdagangan komoditas strategis agar manfaat kegiatan ekspor semakin besar bagi perekonomian nasional.

More From Author

Di Tengah Ketidakpastian Global, Ekspor dan Investasi Indonesia Buka Peluang Kerja

Pemerintahan Prabowo Perkuat Hilirisasi untuk Tingkatkan Daya Saing Ekspor Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *